Npm : 2A213060
kELAS : 4EB25
Tugas Perekonomian Indonesia.
Apa yang harus dilakukan jika terjadi defisit nilai impor lebih besar daripada ekspor dalam neraca transaksi berjalan ?
Sebelum menjawab soal diatas, saya akan membahas tentang pengertian Neraca Pembayaran Defisit.
Pengertian Neraca Pembayaran (balance of payment):
Balance of Payments Manual (BPM)à IMF (1993): suatu catatan yang disusun secara sistematis tentang seluruh transaksi ekonomi
yang meliputi perdagangan barang/jasa, transfer keuangan dan moneter
antara penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain untuk suatu
periode waktu tertentu.
Merupakan suatu ikhtisar yang meringkas transaksi-transaksi antara penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain selama jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Neraca pembayaran mencakup pembelian dan penjualan barang dan jasa, hibah dari individu dan pemerintah asing, dan transaksi finansial. Umumnya neraca pembayaran terbagi atas neraca transaksi berjalan dan neraca lalu lintas modal dan finansial, dan item-item finansial.
Neraca Pembayaran defisit, terjadi apabila jumlah pembayaran lebih besar daripada jumlah penerimaan (transaksi kredit < transaksi debet). Suatu Negara jika mengalami kelebihan impor dan kelebihan tersebut ditutup dengan menambah pinjaman akomodatif dan mengurangi cadangan (stok) nasional maka Negara tersebut sedang mengalami defisit total. Pembayaran defisit dapat juga dilakukan dengan meminjam dari bank sentral luar negeri,
Dampak Neraca Pembayaran Defisit Apabila neraca pembayaran suatu Negara mengalami deficit, maka dampak yang akan terjadi sebagai berikut:
- Produsen dalam negeri tidak dapat bersaing dengan barang-barang impor.
- Pendapatan Negara sedikit, sehingga utang Negara bertambah besar.
- Perusahaan banyak yang gulung tikar, sehingga pengangguran meningkat akibat dari
Ketiga dampak di atas disebut pengaruh deflatoir yang mendorong/ menjurus ke arah penurunan harga (deflasi).
A. Investasi Emas.
Solusi yang paling tepat menjaga nilai mata uang kita adalah investasi emas. Kapanpun emas akan selalu stabil, walaupun pernah turun sesaat. Hal tersebut bukan berarti harga emas tidak stabil. Untuk melakukan investasi tentunya bukan di hitung dalam waktu yang singkat saja, tetapi investasi bisa dikatakan benar – benar investasi kalau kita menghitung dalam jangka yang lama, menjaga stabilitas harga dan mengamankan neraca perdagangan.
B. Selain itu, BI harus berusaha untuk membuat rupiah lebih menarik dengan menaikkan Fasilitas Bank Indonesia (Fasbi) minimal 100 basis point.
Perlu segera diambil langkah-langkah fundamental dan struktural. Pengendalian rupiah, tak semestinya dilakukan dengan mengerem pertumbuhan kredit yang bisa berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi. Yang harus dilakukan adalah pengaturan cash flow nasional. Bank Indonesia perlu mempertimbangkan relaksasi ketentuan untuk melakukan pendalaman pasar valuta asing, untuk memikat aliran modal masuk (capital inflow).
C. Ekspor harus didorong dan impor harus sangat dikendalikan.
Produksi nasional, mutlak harus didongkrak, termasuk produksi sektor pertanian, serta industri perkapalan dan sektor kelautan. Agar impor pangan dan defisit neraca djasa bisa ditekan.
Kebijakan fiskal pemerintah harus disusun dalam kerangka mendorong ekspor. Misalnya dengan menurunkan pajak ekspor dan promosi perdagangan agresif. Sebaliknya untuk mengendalikan impor, pajak impor harus dinaikkan dengan dimulai dari barang mewah.
D. Selain itu, adanya strategi pengembangan industri dan produksi nasional, terutama industri menengah dan kecil. Penciptaan lapangan kerja, realisasi anggaran, serta implementasi program pedesaan, UMKM, dan sosial perlu dipercepat.
Ada beberapa penyebab, yang membuat rupiah babak belur, sehingga membuat defisit keuangan. Pertama, pemerintah tidak mendiversifikasi komoditas ekspor dan negara tujuan ekspor. Kedua, pemerintah tidak mengontrol impor bahan baku penolong yang mencapai 70 % dari total impor. Ketiga, pemerintah gagal mengendalikan subsidi BBM, yang berakibat pada tingginya impor migas,”ujarnya, kemarin.
Lebih lanjut Erani mengatakan, penyebab utama makin terdepresiasinya nilai tukar rupiah adalah defisit neraca pembayaran yang kian membesar. Hal itu terjadi akibat nilai impor lebih tinggi ketimbang ekspor.
“Saat ini yang harus diurus oleh pemerintah adalah memperbaiki neraca pembayaran agar defisit tidak terlalu besar. Rupiah harusnya dibuat kuat lagi,” kata dia.
Erani mengingatkan, beberapa indikator ekonomi mulai keluar dari jalurnya sehingga fundamental makroekonomi cenderung melenceng jauh seperti terlihat pada indikator ekonomi seperti risiko fiskal, defisit neraca pembayaran, dan inflasi yang tinggi.
“Hal-hal seperti itu yang harus diperhatikan secara serius oleh pemerintah. Jangan sampai keluar jalurnya,” ujarnya.
Karena itu, dia sangat menekankan agar pemerintah memperhatikan prospek ekonomi Indonesia ke depan. Jangan sampai kondisi seperti itu dibiarkan berlangsung lama dan terus-menerus terjadi.
“Pemerintah harus jujur, mana saja pekerjaan rumah yang selama ini terabaikan. Ini merupakan alarm,” ujarnya.
Hingga saat ini, menurut dia, pemerintah tidak serius dan tidak fokus mengeksekusi kebijakan. Mereka sekadar memproduksi kebijakan demi memuaskan publik untuk sementara waktu dan tidak mengawal implementasinya.
Seperti bauran kebijakan moneter dan fiskal yang tidak dijalankan secara serius membuat kondisi perekonomian nasional tidak bisa berkembang optimal. Kondisi ini membuat upaya mengurangi defisit neraca pembayaran yang sudah berjalan selama delapan triwulan ini belum juga membuahkan hasil.
Menurut Erani, penyelenggaraan pemilihan umum pada April 2014 membuat agenda politik lebih mengemuka. Perhatian para elite politik, yang kebetulan merupakan pembuat dan penentu kebijakan, bakal lebih fokus menjalankan agenda politik dan membiarkan kebijakan ekonomi berjalan apa adanya.
Pengamat pasar uang, Farial Anwar, menilai pergerakan rupiah pada tahun ini akan sulit. Pasalnya selain karena tahun pemilu, upaya pemerintah untuk meredam gejolak rupiah tidak terlihat sehingga tidak ada kesungguhan untuk bisa mengintervensi pasar agar nilai tukar rupiah kembali normal. Pelemahan rupiah tidak hanya terkait faktor internal, tetapi juga eksternal, terutama dari potensi peningkatan nilai pemangkasan stimulus AS.
Dengan adanya pemilu, kata Farial, akan membuat para investor wait and see terhadap pemimpin yang baru sehingga mengakibatkan tekanan terhadap rupiah. sementara para politikus juga akan menjadi bagian dari pihak yang banyak menahan dolar karena kebutuhan pembiayaan pemilu.Namun begitu, pada 2014, sentimen negatif terhadap rupiah tidak sebanyak pada 2013 yang dihantam oleh beberapa sentimen seperti kenaikan bahan bakar minyak, kenaikan BI Rate, dan isu pengurangan stimulus dari Bank Sentral AS.
Dia mengakui, tak adanya peraturan lalu lintas devisa yang tegas membuat kebutuhan dolar di dalam negeri tak kunjung tercukupi.”Tidak heran jika rupiah tembus Rp12 ribu, karena kebutuhannnya banyak, untuk bayar utang , impor, tetapi likuiditasnya kering. Eksportir tak bisa diandalkan kembalikan hasil devisa kesini, ya jadi kejadian fluktuasi tajam yang tidak bisa terhindarkan,” katanya, kemarin.
Maka dari itu, dia memprediksi nilai tukar rupiah maksimal diangka Rp12.500 “Kalau lebih dari itu, berarti pemerintah dan BI gagal menjaga rupiah,” ujarnya. Meski tekanan berkurang ketimbang tahun ini, potensi penguatan rupiah pun terbatas. Farial menambahkan perlunya alasan penguatan rupiah. Sementara itu, pasokan dollar AS terbatas. Terlebih lagi, investor asing juga masih menunggu hasil pemilu.
Sedikit Intervensi
Rektor Kwik Kian Gie School of Business Prof Dr Anthony Budiawan mengatakan, selama ini Bank Indonesia (BI) memang melakukan sedikit intervensi terhadap mata uang rupiah. “Memang intervensi, tapi itu juga tidak bisa menjaga nilainya, seharusnya juga jangan intervensi terlalu kuat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Anthony menjelaskan pada November 2013 lalu sempat terjadi peningkatan ekspor. “Mungkin itu yang bisa membantu perbaiki defisit neraca transaksi berjalannya, menurut saya sebaiknya rupiah itu dibiarkan saja berfluktuasi,” ujarnya.
Menurut dia, intervensi terhadap rupiah bisa dilakukan ketika nilai US$ menguat sekali. “Kalau Rp12 ribu sampai Rp13 Ribu itu kan market ya, perlahan-lahan setelah current account deficit (CAD) membaik itu akan bisa normal,” imbuhnya.
Dia juga menjelaskan, Jepang yang mempermurah nilai tukar mata uangnya. “Jepang itu mempermurah mata uang hingga turun sebesar 25% tapi perlahan-lahan membaik juga,” tutur dia.
Sedangkan untuk tahun pemilu ini, Anthony menilai nilai tukar rupiah dan perekonomian Indonesia tidak akan terlalu bergejolak selama kondisinya masih aman. “Kalau kondisinya lancar, itu tidak akan mempengaruhi kecuali kalau sudah sampai titik yang sangat menghambat seperti kerusuhan ya bisa pengaruh, tapi kalau tidak ada, ya tidak masalah,” ucap dia.
Anthony juga memprediksikan, rupiah di kisaran Rp12 Ribu hingga Rp13 Ribu masih cukup wajar. “Yang harus dipertanyakan apakah Maret nanti The Fed akan kembali mengurangi stimulusnya, kalau memang dikurangi lagi antara Maret dan Juni menurut saya sulit mencapai dibawah Rp 12 ribu,” tandas dia.
Ekonom FEUI Aris Yunanto menilai BI tidak memiliki amunisi yang cukup untuk mengatasi kondisi pelemahan rupiah. Dia menyebutkan, seharusnya BI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkoordinasi mengatasi pelemahan rupiah.
“BI tidak punya kekuatan untuk mengatasi kondisi ini, sehingga tidak ada yang bisa dilakukan menghadapi tergerusnya pelemahan rupiah. Koordinasi antara BI dan OJK perlu dilakukan karena kekuatan moneter ada ditangan BI sementara institusi saat ini ada di OJK”, ujarnya.
Dia menyebutkan, cadangan devisa asing yang kuat dan kebijakan unutk menahan devisa asing (dolar) di dalam negeri merupakan langkah yang dapat dilakukan untuk mempertahankan rupiah agar tidak terus melemah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar